Taman Kanak-Kanak

Bubes Wen-Chia - Biak Barat, Papua
Foto 1 dari 6:
Lokasi Sekolah - Sebelum pembangunan dilakukan
Foto 2 dari 6:
Anak-anak berkumpul menyambut pembukaan sekolah
Foto 3 dari 6:
Sesudah : Agustus 2006
Foto 4 dari 6:
Batu ukiran sebagai tanda pengenal sekolah
Foto 5 dari 6:
Anak-anak senang bernyanyi untuk memulai hari
Foto 6 dari 6:
65 anak-anak sedang mengenyam pendidikan di sekolah ini

Berdiri/Diresmikan Juli 2007
Jumlah Siswa 65
Biaya Pembangunan IDR 374.276.000

Biak, sebuah pulau seluas 600 km per segi terletak di pantai barat Papua (Irian Jaya). Di sana terdapat sekitar 22 desa miskin. Umumnya, setiap desa dihuni oleh 400-1500 penduduk. Yenburwo adalah salah satu dari desa miskin tersebut.

Masyarakat di desa Yenburwo hidup berdampingan dengan alam dan tidak tersentuh oleh pengaruh luar. Modernisasi yang mereka rasakan pertama kali adalah saat instalasi listrik dipasang pada September 2005. Di tempat ini juga belum tersedia saluran air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai. Kebanyakan penduduk tidak memiliki pemasukan tetap sehingga harus bertahan hidup hanya dengan makan 1 kali sehari.

Pendidikan untuk warga Papua dimulai dari sekolah dasar. Di sekolah dasar negeri, semua murid di sana diasumsikan telah menguasai cara membaca dan menulis dasar semenjak dari pendidikan taman kanak-kanak. Tetapi, asumsi ini salah besar sebab tidak ada taman kanak-kanak sama sekali di Yenburwo. Anak-anak ini harus memulai sekolah dasar dengan bekal yang sangat minim dan harus terus berjuang ke perguruan tinggi walaupun mereka tidak sepenuhnya menguasai keahlian membaca dan menulis dasar.

Pada Juli 2006, Yayasan HDI bersama Yayasan Manggaok Yenburwo Papua mulai meletakkan fondasi bagi sistem pendidikan dasar di Desa Yenburwo, dengan membangun sebuah TK. Saat ini, sekitar 65 anak-anak berkesempatan untuk mempelajari semua dasar yang diperlukan untuk memasuki SD. Pemahaman mengenai budaya Papua dan bahasa Inggris menjadi bagian dari materi pembelajaran. Bekal ini diharapkan akan membantu perkembangan dan pertumbuhan intelektual, emosional, serta sosial sehingga mempersiapkan mereka untuk masa depan yang lebih baik.

Ada sesuatu yang unik mengenai sekolah ini! Gedung sekolah ini mengadopsi arsitektur budaya Papua. Fungsinya pun lebih mengarah ke gedung serbaguna karena selain digunakan sebagai ruang kelas bagi anak-anak di pagi hari, pada siang hari digunakan sebagai pusat pembelajaran untuk anak-anak yang lebih besar. Sedangkan di malam harinya, menjadi balai pertemuan bagi orang dewasa untuk mengadakan beragam kegiatan sosial. Gedung ini juga memiliki dapur untuk mempersiapkan makanan utama untuk anak-anak, melengkapi pola makan mereka yang hanya 1 kali sehari jika berada di rumah.